Tari Angguk dan Aplang, Tarian Tradisional Khas Banyumasan

Ekonomi, Sosial dan Budaya

Angguk merupakan kesenian tradisional yang berkembang di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Bercorak Islami yang tersaji dalam bentuk tari-tarian dengan iringan terbang / genjring, yang merupakan alat musik khas Islam. Angguk sudah ada sejak abad ke-17 seiring dengan perkembangan agama islam di Pulau Jawa yang dibawa oleh para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah Mataram-Bagelen. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu sarana untuk menyiarkan agama Islam. Seiring dengan perkembangan jaman, kesenian ini semakin jarang dipentaskan saat ini.

Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari laki-laki dewasa atau anak-anak yang berusia sekitar 12 tahun. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula, mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu, serta memakai topi pet berwarna hitam.

Perangkat musik pengiringnya terdiri dari kendang, bedug, tambur, kencreng, 2 rebana, terbang (rebana besar) dan angklung. Syair lagu-lagu Tari Angguk pada mulanya diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair lagu pada kesenian angguk pada awalnya menggunakan bahasa Arab. Akan tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa mengubah corak aslinya.

Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”, bedanya bila angguk dimainkan oleh laki-laki  maka “aplang” dimainkan oleh perempuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pertanyaan Keamanan